My effect

Kamis, 14 Maret 2013

Aku Lelah Berharap, Aku Menyerah :")


Kamu berhasil membuat aku menyukaimu. Terjun bebas lalu tenggelam ke dalam auramu. Kamu itu selalu bisa membuat aku selalu merasa nyaman di dekatmu. Entahlah, tapi aku lebih menyukaimu dekat dan tidak jauh darimu. Aku tidak tahu mengapa aku terlalu memujamu, kamu itu biasa saja, tidak ada yang berbeda dari yang lain, tapi ulah kecilmu yang menyebalkan itu yang selalu membuat aku merindukanmu.

Sudah berapa lama ya kita saling mengenal? Hampir tiga tahun, mungkin, aku memang tidak tahu kapan tepatnya kita berkenalan, tapi ada yang selalu tepat memaknai perkenalan kita, hati ini yang selalu sama sejak awal kita bertemu. Hati yang selalu menggebu-gebu ketika melihatmu.

Tiga tahun ya? Bukan waktu yang singkat menurutku, kamu memberiku perhatian yang lebih, kamu memberiku sesuatu yang istimewa, kamu selalu membuatku tak bisa lepas dari denganmu, dari sorot matamu, dari sudut bibirmu, dari semua perlakuanmu, walau mungkin hanya aku yang merasakannya. 

Tapi...tiga tahun itu terlalu lama bagiku. Semakin lama kamu jadi semakin semu, semakin sulit ku rengkuh. Tak ada perhatian, tak ada kejutan, tak ada yang istimewa. Apa aku harus menyerah? Meninggalkanmu dan mengubur rasa ini dalam-dalam? Sehingga aku bisa membuka hati untuk orang yang mau menerimaku dengan setulus hati? 

Sebenarnya apa maksudmu, memberikan perhatian lebih tapi akhirnya kau meninggalkanku pula. Itu salahmu! Kamu yang mempermainkanku seolah aku ini boneka dan kamu itu sebagai tuannya. Seakan kamu berhak atas diriku. Kamu yang buat aku terjebak lalu tersesat dalam labirin hatimu. Itu semua karena kamu yang memulai. Itu karena ulahmu yang berlebihan, dan membuatku terjerumus atas rasa sayangku padamu. Jadi salahkah aku? Jika aku menyayangimu? Dan mengharapkanmu tuk menjadi milikku? Jangan bilang dan jangan pernah bilang jika itu semua salahku, karena aku yang terlalu berlebihan menilai semua sikapmu padaku. Awalnya rasa ini biasa, tak ada yang lebih, tapi kamu yang membuat perasaan aku melebihi batas biasa. Jadi masihkah kamu menyalahkanku?

Memikirkanmu membuatku semakin muak, namamu selalu berkeliaran dalam otakku bertaburan tak menentu. Tapi senyummu tak bisa lepas, terlalu melekat, sulit untuk di lepas.
Kamu selalu meyakinkanku bahwa kamu itu nyata, bukan cuma singgah dalam bayang, bukan cuma ada dalam dongeng impianku saja. Kamu itu sungguhan. Asli. Real. Bukan aku yang terlalu gila sampai-sampai hanya khayalan. 

Kamu membawa hari-hariku yang abu-abu menjadi berwarna seperti pelangi me-ji-ku-hi-bi-ni-u.  Menjadi crayon dalam kanvas putihku. Menjadi lentera dalam gelapnya sudut hatiku. 

Ibarat magnet yang sama kutubnya saling bertemu lalu ia serentak bertolak belakang, begitulah hati dan pikiranku, sama-sama bertolak belakang, hati ini tak ingin melepasmu, sedangkan otakku berkata sebaliknya.

Dan sekarang kamu kembali, kamu muncul lagi, menyapaku dengan sapaan selembut kapas. Apa maksudmu? Apa ini bagian dari naskah dramamu? Menyakitiku seperti di sinetron yang ber-season? Apakah ini season ke dua? Berarti peranmu sukses ya? 

Kamu datang lagi, seolah tidak terjadi apa-apa, membuka balutan luka yang dalam yang teramat perih ini yang sudah lama merekat kuat, kamu buka dengan lembut dan sebisa mungkin tak membekaskan rasa sakit. Aku berusaha agar tidak masuk ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya lagi, tapi lagi-lagi kamu meyakinkanku dengan ulahmu yang seakan sosokmu nyata tanpa dusta, berusaha untuk tidak mengingat kenangan, kamu membuka paksa loker kenangan yang sudah ku kunci rapat itu, kamu buka dengan bebas, dan semuanya masih tersimpan rapi disana, kamu membuka paksa sampai kenangan itu jatuh bertaburan dalam rona pikiranku.

Kamu sudah melakukannya lagi. Maukah kamu bertanggung jawab jika aku terpeleset jatuh ke dalam hatimu lagi? Dan tak ada lagi permainan? Kupikir ini sudah lebih dari cukup kamu membuat aku sakit.

Cukup. Sampai disini. Jangan lagi. Kumohon. Aku berusaha untuk melupakan rasa sakit dan meleburkannya, dan jangan kau buat aku merasakan rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya. Dan kumohon jangan menyalahkanku jika aku terlalu menyayangimu dan mengharapkanmu kemarin, kumohon sekali lagi padamu jangan memulai permainan itu lagi dan membuat aku kalah bersama rasa sakit yang dalam dalam ikatan hukuman eratmu untuk kedua kalinya. Kumohon.

Jangan, jangan lagi, kumohon.
Aku tak mau terjebak dalam hatimu lagi 
dan membiarkan sakit ini menjamur lebih lama.
Cerita ini kamu yang memulai,
jangan pernah menyalahkanku jika aku mengharapkanmu!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar